Jumat, 30 Agustus 2013

Hanya Isyarat

Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta.
Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan.
Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik, niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.

Dewi ‘Dee’ Lestari

Rabu, 22 Mei 2013

Untololgy (Dzikri Robbi)


  • Senja ini, lampu-lampu mulai menyala. Sadarkan aku tentang waktu yang terus melaju. Senja ini, langkah kakiku belum berhenti. Mengejar setiap mimpiku sampai malam nanti.
  • Esok pagi, giliran ragaku yang mulai tua. Kembali sadarkan aku tentang waktu, yang memang benar dia melaju. Esok pagi, mungkin jantugku akan berhenti. Itu misteri senja ini.

Sabtu, 11 Mei 2013

Sepi

"mau share pengalaman terindah.... yaitu... dikasih sepi"


"hehe.. iya sepi juga indah kalau dianggapnya indah.
ramai juga jadinya menyebalkan kalau kita anggapnya itu menyebalkan :)"


"kamu tahu.. sepi itu menyebalkan.. semakin disebelin semakin merasa sepi. 
makanya ditemenin aja. tapi masih belum bisa berdamai dengan sepi."


"sebelum berdamai dengan sepi, kita harus bisa dulu berdamai dengan diri sendiri.
bahwa iya kita sedang sendiri, tapi gak benar-benar sendiri kalau dihatimu ada Dia."


"mm.. iya berdamai dengan keduanya karena ada Dia. makanya bersyukur akan sepi. jika sudah berteman, apakah sepi akan hilang?"


"buatku, hidup itu menjadi tidak sepi ketika aku banyak menolong orang.
masalah nanti orang yang sudah aku tolong itu hilang,
berarti aku harus mencari lagi orang lain yang harus aku tolong."

-@dzikrirobbi-
#untololgy

Kamis, 25 April 2013

Legenda Native American Indians – “Alat Penjaring Mimpi” (Dreamcatcher)


Budaya suku bangsa Native American Indians sangat kaya akan beragam legenda yang merupakan cerita-cerita dari para nenek moyang mereka. Salah satu legenda yang cukup dikenal adalah Dreamcatcher atau jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yaitu “alat penjaring mimpi”. Adapun jalan ceritanya sebagai berikut:


Pada jaman dahulu kala, seorang pemimpin tua dari suku bangsa Indian Lakota yang bernama Iktomi menetap di puncak gunung yang tinggi. Di gunung tersebut ia mendapatkan visi bahwa ada seorang penipu besar muncul dalam bentuk seekor laba-laba. Iktomi berbicara dalam bahasa roh yang hanya bisa dimengerti oleh para petua suku. Selagi Iktomi berbicara, ia mengambil sebuah benda yang berbentuk lingkaran yang sudah tua dan digantunginya dengan rambut kuda, manik-manik serta lain-lain aneka persembahan. Dia mulai membuat jaringan laba-laba…

Dia berbicara tentang siklus hidup dan bagaimana manusia memulai kehidupannya sebagai bayi yang kemudian tumbuh ke masa kanak-kanak dan dewasa. Akhirnya manusia akan memasuki usia tua dimana mereka harus dirawat sebagai bayi lagi. Dengan demikian manusia telah menyelesaikan satu siklus kehidupan.. Iktomi melanjutkan bicaranya sambil terus memutar-mutar jaringan laba-laba yang dibuatnya, Diceritakannya bahwa didalam setiap kehidupan ada banyak kekuatan yang baik dan ada juga kekuatan yang buruk. Jika manusia mendengarkan petunjuk dari kekuatan yang baik, mereka akan berjalan pada arah yang benar. Tapi jika mereka menuruti petunjuk dari kekuatan yang buruk, mereka akan menjalani kehidupan yang salah.

Dia melanjutkan, “Ada banyak kekuatan dan petunjuk yang berbeda yang dapat membantu ataupun yang dapat mengganggu keselarasan alam dan Roh Agung serta semua ajaran-ajaran yang baik.” Sambil terus berbicara dia melanjutkan tenunan jaringan laba-laba yang dibuatnya, mulai dari sisi luar terus ke pusat lingkaran. Ketika telah selesai kerjanya Iktomi memberikan hasilnya kepada seorang Lakota tua dan berkata: “Lihat, jaring laba-laba adalah sebuah lingkaran yang sempurna, tetapi ada lubang di tengah-tengahnya.” Para petua suku bangsa Lakota meneruskan visi ini kepada bangsanya. Sekarang mereka menggunakan alat menjaring mimpi ini (dreamcatchers) didalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari.


Secara tradisional alat menjaring mimpi ini digantungkan di atas tempat tidur mereka atau di rumah mereka untuk menjaring mimpi. Mimpi yang baik akan tertangkap kedalam jaringan dan akan membawa berkah dalam kehidupan mereka . Tapi mimpi yang buruk akan pergi dan berlalu melalui lubang ditengahnya dan tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan mereka.

(Catatan: Sebaliknya ada beberapa suku bangsa Native American Indian yang percaya bahwa mimpi yang buruk akan terjebak kedalam jaringan dan hangus dengan terbitnya matahari di pagi hari sedangkan mimpi yang baik akan melewati lubang ditengahnya untuk sampai kepada individu yang bersangkutan. Kedua versi kepercayaan ini dapat diterima.)


Dewasa ini, Dreamcatcher tidak hanya bagian dari kebudayaan suku bangsa Native American, tetapi telah menjelma menjadi fashion anak muda yang telah dipopulerkan di berbagai negara, termasuk negara kita sendiri. Saat ini Dreamcather merupakan benda hiasan dan alat New Age yang dapat ditemukan dengan mudah di toko-toko hadiah, aksesoris, internet, dan lain sebagainya.

Selasa, 23 April 2013

sesuatu yang kita sebut dengan 'ekspresi'

kali ini gue mau ngebahas tentang sesuatu yang kita sebut dengan 'ekspresi'. kenapa gue pengen ngebahas ini?? jawabannya karena masalah terberat gue dari jaman dulu sampai sekarang adalah segala hal yang berhubungan dengan ekspresi.


oke, semakin bertambahnya umur gue dan semakin banyak lingkungan yang gue temui,. semakin gue tau bahwa ekspresi adalah salah satu unsur terpenting untuk menunjang ke'eksistan seseorang dalam sebuah komunitas. semakin heboh seseorang maka akan semakin populer orang itu.. sebagai contoh, dalam lingkungan komplek perumahan, ibu2 yang paling rumpi lah yang biasanya jadi focal pointnya. sedangkan ibu2 yang pendiem, jarang bergaul bakal tenggelam dan gak disadari keberadaannya..


dan itu selalu terjadi pada gue.. (︶﹏︶)


gue perhatikan setiap kali orang yang baru kenal gue, biasanya bakal males deket2 gue. kenapaa??? ( ۳ ˘̶̀• ̯•˘̶́ )۳, padahal gue lucu loh...


dan ternyata, survey membuktikan bahwa rata2 orang yang baru kenal gue menilai gue orangnya terlalu cuek, datar, dan ekspresi cenderung ke arah judes.
DEMI TU-HHHH-AAANNN!!! itu bukan mau gue.


yah, seringkali memang kita gak bisa menilai diri kita sendiri. kadang yang kita anggap 'biasa aja' bagi orang itu adalah 'sesuatu'. kadang yang gue anggap gue sudah wajar, tapi bagi kebanyakan orang gue gak wajar. mereka bilang gue suka sibuk sendiri, cuek, individual, flat, galak.., padahal gue sendiri sudah merasa cukup ramah sama meraka..


entahlah ƪ(‾ε‾")ʃ
mungkin,.. mungkin bener..
mungkin gue terlalu introvert..
mungkin sebenernya gue juga ngerasa..
tapi, mungkin juga gue sebenernya gak tau harus gimana..?


dari kecil, lebih tepatnya dari Tk sampai SMP, gue ada di lingkungan sekolah yang sama.. jadi di masa2 itu gue masih belum sepenuhnya sadar dengan ke introvertan gue.. ya walaupun sebenernya orang rumah sering bilang kalo gue emang terlalu tertutup dan gak banyak omong, jadi gampang diurus. -__-"


mulai masuk SMA baru perlahan gue mulai merasa kesulitan.. gue gak gampang akrab. sekalipun gue sering ketemu dan ngobrol sama temen2 gue dikelas. gue lebih sering bareng Dea, temen gue dari kecil dan waktu itu kita sebangku. kalo sama yang lain gue lebih suka seperlunya.. gak tau juga kenapa..
akhirnyaa, di akhir semester 2 kelas 1, mau naik kelas 2 baru gue bisa akrab sama temen2 sekelas gue. tapi sayangnya telat, akrabnya pas udah kenaikan kelas. ya percuma. ntar juga misah kelas lagi. ntar juga gue nemu teman baru lagi, dan gue mesti adaptasi lagi..

dan di bangku SMA ini juga gue baru nyadar kalo gue punya ekspresi jutek, dan itu yang bikin temen2 gue segan kenalan sama gue.. terus terang gue syok ya.. gue sama sekali gak nyadar kalo muka gue jutek. gue ngerasa muka gue manis soalnya. ┒(ˇ_ˇ)┎


lulus dari SMA gue lanjut ke jenjang kuliah. nah disini inii... kan gue nemu orang2 yang bener2 baru ya.. yang emang gak kenal sama sekali siapa gue.. jadi penilaiannya pasti subjektif masing2 individu..
awalnya gue agak susah bergaul sama mereka.. yah karena pada dasarnya gue emang susah adaptasi.. karena susah adaptasi tadi, gue jadi lebih banyak milih buat diem, dan seperlunya. jadilah gue dibilang sombong, cuek.. tambah lagi muka gue udah cetakannya judes. jadinya gue dicap antagonis. sian banget kan gue..
padahal gue aslinya baik lo..


lambat laun gue mulai ngerasa kalo sifat gue ini kurang baik.. gue jadi kurang terbuka sama lingkungan.. kalo udah sampe kost langsung masuk kamar, kunci pintu, gak pake 'say hai' sama penghuni lainnya.. dan gak buka kamar sama sekali sampe gue ngerasa berkepentingan buat keluar, kecuali ada yang ngetok 'nina, ninaa keluar pang!' atau ada yang ngetok buat minjam barang..
dikampus pun gue gitu.. kalo udah selesai semua urusan gue bakal langsung pulang dan bertapa dikamar.. gue agak anti yang namanya nongkrong tanpa tujuan.. males aja.. daripada nongkrong2 kaya begitu mending gue tidur.. kebetulan juga temen2 gue yang akrab waktu itu punya paham yang sama. jadinya klop, semakin introvert.


mulai memasuki masa skripsi gue mulai kesulitan.. yap, karena temen2 sealiran gue udah gak bisa bareng gue lagi. kita sibuk sama urusan masing2, dan gue telat setengah semester dari mereka gara2 dapat dosen pembimbing yang... begitulah  (︶﹏︶).


gue masuk studio yang berbeda dari mereka.. dan disini gue bener2 sendiri tanpa temen2 sealiran gue tadi..
susah banget.. gue banyakan diem, konsen ngegambar dibanding ikut bercanda..
pasang headset, muka lurus ke laptop, teh kotak di seblah kiri, kemudian hadap kanan ke meja gambar, lalu ketiduran..
tapi lama kelamaan, gue mulai bisa terbuka.. gue jadi bisa bercanda, begaul sama mereka..
sumpah ternyata bergaul itu menyenangkan ya! :D
saat itu gue udah ngerasa kalo gue udah bisa gaul! yeah!!!

dan...
diakhir studio.. pas kita lagi berat2nya buat pisah dari yang tadinya setiap hari bersama..
ntah kenapa waktu itu gue disematkan gelar 'muka datar' sama temen2 studio TA gue.
syok! =___=''. (padahal gue pikir gue udah gaul..)


aahh, sulitnya berekspresi..


memasuki lingkungan kerja, kekakuan gue semakin parah.. gue semakin pendiem. sebenernya ini karena gue canggung. gue berada di lingkungan yang sepenuhnya baru.
siapa mereka?
dimana gue?
jadilah gue cukup merasa tertekan..


gue menutupi ketertekanan gue dengan berusaha terlihat setenang mungkin. tapi ternyata menurut pandangan mata orang2 diluar sana gue justru keliatan angkuh, cuek, dan.. datar. -_-"
entahlah, benci banget dikatai datar.. karena gue sebenernya gak ngerasa kalo gue datar.. gue lebih suka kalo kata datar tadi dirubah jadi 'cool' *senyum tiga jari*.


yah, dari semua yang sudah gue ceritain diatas kesimpulannya, gue terganggu dengan sifat gue sendiri yang sulit berekspresi. karena menurut pengalaman gue, sifat kaku itu justru menyusahkan gue sendiri dalam lingkungan pergaulan gue. coba aja, siapa sih yang suka jalan sama orang yang kalo diajak ngomong semangat2 ditanggapinnya dengan muka lempeng. jadinya kan basi ya.. -_-


"ngomong sama nina ni sama ja kaya ngomong lawan batu." (Nenny, 20tahun, adik durhaka)


setelah ngomong kaya barusan, adek gue langsung berubah jadi batu karena gue kutuk.


gue agak heran dengan orang2 yang justru melakukan pencitraan judes sama dirinya.. mereka bangga dicap sombong, cuek, dsb.. kenapa mereka justru bangga? itu sifat jelek cuy! gak akan ada yg ngerasa nyaman dengan sifat yang kaya gitu.. coba aja loe sendiri disuruh pilih, loe lebih suka mana.. temenan sama orang yang ramah apa orang yang cuek?? pasti sama yang ramah kan? nah itu! jadi cuek itu gak bisa memberikan rasa nyaman buat orang2 terdekat kita karena dianggap gak peka. dan mungkin ini juga salah satu faktor kenapa hubungan percintaan gue selalu kandas ditengah jalan #nangis.


sampe detik ini gue masih terus berusaha untuk berubah, berubah jadi lebih ekspresif, lebih ramah, lebih peka dan lebih perhatian tentunya. gue capek dikatain cuek, gue capek dikatain datar.. gue emang orangnya serba seperlunya, tapi gue gak sombong kok.. cungguh!
gue selalu berusaha senyum sekarang, soalnya gue sadar senyum gue manis *senyum tiga jari*.
dan semoga orang2 disekeliling gue sadar kalo gue sedang berusaha ramah.

karena kata pepatah "senyum adalah garis lengkung yang dapat meluruskan banyak hal"

◦^⌣^◦

Senin, 08 April 2013

AGAMA YANG TERBAIK


Seorang teologist Brazil, Leonardo Boff menulis:

Dalam sebuah diskusi meja bundar tentang agama dan kebebasan di mana Dalai Lama dan saya sendiri berpartisipasi saat istirahat, dengan licik dan penuh kepentingan,
saya bertanya padanya:

“Yang Mulia, apakah agama yang terbaik?”

Kupikir Beliau akan berkata:
“Buddhis Tibet” atau “Agama-agama timur yang lebih tua dari Kristen”.

Dalai Lama diam, tersenyum dan memandang mataku... mengejutkanku karena aku tau unsur licik dalam pertanyaanku.

Beliau menjawab:
“Agama yang terbaik adalah agama yang membawamu paling dekat dengan Tuhan. Agama yang membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik”

Untuk menutupi rasa malu dengan jawaban yang begitu bijak, saya bertanya lagi;
“Apa yang membuatku menjadi lebih baik?”

Beliau menanggapi:
“Apapun yang membuatmu menjadi
lebih welas asih,
lebih berpikiran sehat,
lebih terbebaskan,
lebih menyayangi,
lebih manusiawi,
lebih bertanggung jawab,
lebih bersusila,
Agama yang membuatmu demikianlah agama terbaik”

Aku terdiam sejenak, mengagumi dan bahkan hingga kini masih memikirkan tanggapan beliau yang tak terbantahkan ini.



“Aku tak tertarik, kawanku, apa agamamu atau apakah kau beragama atau tidak. Yang terpenting bagiku adalah perilakumu di depan sesamamu,keluargamu, lingkungan kerjamu, komunitasmu dan di hadapan dunia”

“Ingatlah, alam semesta adalah gema dari sikap kita dan pikiran kita”

“Hukum Aksi-reaksi tidak semata untuk benda fisik saja. Namun juga untuk hubungan antar manusia.
Bila aku bertindak dengan kebaikan, aku akan menerima kebaikan. Bila aku bertindak dengan kejahatan, aku akan menerima kejahatan”

"Apa yang diajarkan nenek moyang kita itu murni benar.
Kau akan selalu dapatkan apa yang kau inginkan untuk orang lain.
Berbahagia bukanlah takdir, namun pilihan”.

Akhirnya Beliau berkata:
“Jagalah pikiranmu, karena itu akan jadi perkataan.
Jagalah perkataanmu karena itu akan jadi tindakan.
Jagalah tindakanmu karena itu akan jadi kebiasaan.
Jagalah kebiasaanmu karena itu akan jadi karakter.
Jagalah karaktermu karena itu akan jadi nasibmu.
Dan nasibmu akan jadi hidupmu.
... dan...

Tak ada agama yang lebih tinggi daripada Kebenaran”.

copas

Sabtu, 06 April 2013

tuhan [saja] diam

Ketika tuhan diam
Pedang dihunus manusia
Membela tuhan
Membunuh manusia lain
Mengklaim tuhan
Menghancurkan kehidupan damai

Kenapa tuhan diam?
Kenapa tuhan harus dibela?
Kenapa pedang jadi simbol tuhan?
Tuhan apaan?
Untuk apa tuhan dipedangkan?

sejarah kekelaman dunia (agama) di berbagai belahan bumi masih terus saja diulangi.

Fundamentalisme mengakar dalam pikiran sempit
Bukan hanya pada penghunus pedang
Pluralisme terkikis tipis
manusia tak mampu mengenal penciptanya
Tuhan yang diam

Wahai manusia bengis
Tuhan diam saja
Mengapa engkau bengis?
lebih berkuasa dari tuhan?
Bunuh saja tuhan
Hunus pedangmu
Bunuh tuhan yang diam
Mampukah kau buat tuhan terdengar?

7 februari 2011
yu sing